![]() |
| Gambar Ilustrasi |
Dailynusantara.id, Opini - Di bawah langit biru, janji-janji tertoreh namun dalam palung hati rakyat kecewa selalu merekah, ketika akses pendidikan menjadi ruang yang tak memiliki rasa aman dan jauh dari kata layak.
Ilmu dan pengetahuan yang seharusnya tidak dibenturkan oleh harga yang sangat mahal dengan ketakutan-ketakutan ketika berada dalam ruang-ruang kelas yang sudah tidak layak dan lapuk dimakan usia, ditambah teknologi penunjang tenaga pengajar yang sangat tertinggal, tetapi ibu bapak guru dengan hati yang ikhlas terus dipecut untuk terus menyampaikan pesan-pesan peradaban.
Permasalah fundamental dalam pendidikan justru selalu lahir dari keluhan yang tak kunjung didengar, di atas puing mimbar dan panggung janji-janji pemerintah selalu terulang dengan sadar, selalu saja berseru sumber daya rendah, namun apa arti keluhan tanpa tindakan dari penyelenggara negara yang konkret?
Ini bukan lagi tentang permasalahan di dalam kelas yang harus kita sepakati bersama, melihat semangat revolusioner regenerasi anak bangsa yang begitu menggebu-gebu untuk meraih masa depan dengan segala keterbatasan dan suara-suara lantang tentang perubahan selalu tertanam dalam jiwa siswa siswi. Karena mereka sadar tantangan zaman sudah tidak bisa lagi dijawab dengan selogan-selogan, melainkan aksi konkret!
Namun seringkali negara dan pemerintah tidak berhasil hadir di tengah-tengahnya untuk memberikan ruang kepada anak bangsa yang berada di daerah terdalam atau yang sering di sebut sekolah 3T (tertinggal, terdepan, terdalam) yang harusnya kita yakini bersama bahwa mereka juga memiliki hak yang sama atas pendidikan yang layak sebagai jembatan menuju peradaban manusia maju.
Pendidikan bukan sekadar memindahkan angka di atas kertas, atau menjejali otak dengan fakta yang lekas hilang. Pendidikan adalah fajar yang memecah keheningan ketidaktahuan. Ia adalah jembatan yang dibangun di atas jurang ketidakpastian, menghubungkan hari ini dengan hari esok yang lebih bermartabat.
Di dalam kelas-kelas yang riuh, kurikulum bekerja layaknya penjahit ulung. Ia merapikan benang-benang karakter yang acak menjadi jubah budi pekerti yang anggun. Ilmu pengetahuan tidak lagi sekadar hafalan, melainkan lentera yang menerangi jalan bagi akal sehat untuk berpikir kritis.
Guru bukan hanya penyampai pesan, melainkan pengabdi yang menyusuri jalan berdebu ilmu, menanamkan benih mimpi di lahan pikiran murid-muridnya.
Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang merawat tradisi namun berani merangkul inovasi. Ia harus cair, demokratis dan beradaptasi dengan laju teknologi, namun tetap berakar pada moralitas dan kepedulian sosial.
Pada akhirnya, pendidikan adalah tangga yang tidak boleh disembunyikan. Ia harus kokoh menopang kaki-kaki generasi muda yang ingin mengubah mimpi menjadi kenyataan. Ketika pendidikan berhasil menyentuh jiwa, ia tidak hanya menciptakan manusia yang pintar, tetapi manusia yang "manusiawi"—beradab, bermoral, dan berguna bagi sesama.
Biarkan suara ini menggema tanpa henti, mengingatkan bahwa pendidikan adalah hak sejati semua anak bangsa yang harus di penuhi oleh negara, hentikan komersialisasi pendidikan, bangun peradaban manusia yang bisa beradaptasi dengan zaman agar masa depan anak bangsa terlihat jelas.
Penulis : Akbar Jaya Saputra
Edit : Tim Redaksi
