![]() |
| Ketua IDI Landak saat Siaran di Radio Pemda Landak |
Dailynusantara.id, Landak — Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kabupaten Landak menyoroti masih tingginya temuan kasus Tuberkulosis (TBC) di wilayah Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, pada tahun 2026 ini. Meski teknologi medis telah berkembang pesat, penyakit menular akibat bakteri Mycobacterium tuberculosis ini tetap menjadi tantangan serius bagi target eliminasi TBC tahun 2030.
Ketua IDI Cabang Kabupaten Landak, dr. Sihar Presly Lamomara Siahaan, dalam program "Dokter On Air Landak Menyapa" di Radio Pemda Landak, Selasa (26/3/2026), mengungkapkan bahwa bakteri TBC saat ini bertindak layaknya penyusup yang mampu bertahan lama di dalam tubuh manusia.
"Bakteri ini bisa sembunyi atau tidur di paru-paru selama bertahun-tahun tanpa gejala. Begitu daya tahan tubuh menurun akibat polusi, stres, atau kurang istirahat, kuman tersebut aktif dan merusak paru-paru," ujar dr. Presly.
dr. Presly yang juga Plt. Kepala Puskesmas Kuala Behe ini menekankan pentingnya mengenali gejala khas TBC agar penanganan tidak terlambat. Beberapa tanda yang harus diwaspadai meliputi batuk berdahak lebih dari dua minggu, demam meriang saat malam hari, keluar keringat malam tanpa aktivitas fisik, serta penurunan berat badan secara drastis.
Masyarakat Kabupaten Landak diimbau untuk segera memeriksakan diri ke Puskesmas jika mengalami gejala tersebut. Saat ini, fasilitas kesehatan dari Ngabang hingga pelosok telah dilengkapi dengan alat Tes Cepat Molekuler (TCM) yang mampu mendeteksi keberadaan bakteri secara akurat melalui sampel dahak.
Tantangan terbesar dalam penanganan TBC adalah kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan selama minimal enam bulan tanpa putus. dr. Presly memperingatkan fenomena jebakan maut , di mana pasien sering merasa sudah sembuh pada bulan kedua pengobatan karena gejala fisik mulai hilang.
"Padahal di bulan kedua, kuman yang kuat hanya sedang pingsan. Jika obat dihentikan, kuman tersebut akan bangun kembali dan bermutasi menjadi Multi-Drug Resistant (MDR) atau Super Bakteri yang jauh lebih sulit diobati," tegasnya.
Pengobatan bagi pasien yang sudah kebal obat bisa memakan waktu hingga dua tahun dengan dosis yang lebih keras.
Selain pengobatan, pencegahan menjadi kunci utama memutus rantai penularan. Mengingat TBC menular melalui percikan dahak (droplet) di udara, dr. Presly menyarankan warga untuk menjaga sirkulasi udara di rumah melalui jurus jendela terbuka agar sinar matahari (UV) dapat masuk dan membunuh kuman.
IDI juga meluruskan berbagai mitos di masyarakat, seperti anggapan bahwa TBC adalah penyakit keturunan atau menular melalui alat makan. "TBC murni infeksi bakteri lewat udara. Jadi tidak perlu mengucilkan alat makan penderita, yang penting adalah penderita menggunakan masker dan kita menjaga daya tahan tubuh melalui gaya hidup sehat," pungkasnya.
Pemerintah menjamin seluruh biaya pengobatan TBC di Puskesmas dan RSUD Landak tersedia secara gratis bagi masyarakat.(Red)
